Thursday, July 4, 2013

catatan - setiap orang pasti berubah



Setiap Orang bisa berubah seiring waktu..

Setiap orang punya hak untuk berubah.. menjadi lebih baik atau menjadi “cukup” baik

Setiap orang boleh tidak berubah, tetapi waktu pasti merubahnya..

Lalu mengapa mereka harus sinis pada perubahan aku??

13 tahun yang lalu aku hanyalah perempuan muda yang baru lulus SMA dan hobby manjat-manjat pohon jambu atau genteng rumah.. bisa ditebak umur aku berapa?? Yaa.. aku menginjak 30 tahun september nanti..
 Umur 17 adalah masa-masa paling “labil” dalam setiap proses pendewasaan diri, aku ingat salah satu Joke Raditya Dika yang bilang “proses hidup itu dimulai dari Bayi, Anak-anak, Remaja, Alay, baru deh Dewasa”  hahaha.. ya, setiap orang akan mengalami masa-masa alay dan merasa malu setiap mengingatnya.. tapi aku ga malu..!! aku bangga bisa melewatinya dan bertahan hidup sampai saat ini..

19 tahun
 Dulu telinga penuh tindikan dan celana jeans robek-robek plus tanktop warna putih adalah hal yang keren pada jaman itu, naik gunung, naik pohon jambu, naik genteng, berantem ama anak cowok, resleting rok sekolah di jahit didepan (trus langsung nyadar, kalo mau pipis ternyata tinggal jongkok doang.. ga perlu buka resleting), rambut layer mirip tokoh kartun jepang, dihukum lari keliling lapangan upacara, jadi anak musik, ga mandi sore, ga punya pacar, dikejar-kejar guru BP atau ketahuan bolos sama wali kelas adalah hal-hal alay yang hampir setiap anak alay pernah alami termasuk aku.

19 tahun
 Lalu usia bertambah...
20 tahun
Aku mengenal high heels, mengenal rambut curly atau straight (catok), mengenal salon dan mengenal fashion. Saat-saat seperti itulah aku merasakan penyiksaan terberat dalam hidup aku.. kaki bengkak karena pakai high heels terus menerus, akar-akar rambut sakit saat di sisir, berat badan kurus karena ga mau terlihat gendut  (padahal kalo dipikir-pikir semok atau bohay lebih keren daripada kurus... wkwkwkwk) dan uang tabungan terkuras karena harus terlihat high level.. what?? Yaa.. ketika itulah proses labil dan galau berlangsung..

25 tahun
Tapi aku bersyukur masa-masa galau itu Cuma bertahan setahun, ketika itu aku sadar untuk terlihat berkualitas ga perlu pakai benda-benda mahal nempel dibadan.. selama rajin mandi dan gosok gigi pasti udah kelihatan cantik di mata cowok manapun.. hehehe.. 

 akhirnya aku kembali jadi anak “manis” yang betah dirumah dan bersahabat sama keadaan.. menghabiskan waktu weekend dikamar buat nulis lagu atau blog, kadang-kadang kalau ga ada inspirasi aku nyapu, ngepel dan dorong-dorong lemari atau meja belajar dikamar supaya posisinya lebih rapi dan bersih (cari-cari kegiatan aja sih, daripada bengong kelamaan takut kesurupan),waktu senggang lainnya aku gunakan untuk bongkar-bongkar isi lemari dan mensortir baju-baju yang sudah harus disumbangkan ke orang lain, bantuin mama belanja, bantuin kakak betulin antena, betulin listrik (sampe kesetrum berkali-kali), bantuin papa nyuci mobil (alasan buat main air) atau bantuin bibi didapur (modus pengen nyomot-nyomot makanan).. apapun itu aku lakukan supaya ga keluyuran ke antah berantah..

28 tahun

Jiwa sosialku terbentuk saat berkenalan dengan anak-anak Teater SEMAT daerah Matraman, mereka mengenalkan aku untuk selalu merasa “cukup” dalam keadaan yang serba berkekurangan, mereka tak segan mengingatkan aku untuk melimpahkan baju layak pakai aku untuk anak-anak jalanan.. mereka mau berjuang untuk jadi lebih baik, mereka berani berperang melawan narkoba dalam lingkungan yang penuh dengan Junkie, mereka mau terjun kejalanan hanya sekedar membagikan makanan, uang, sembako atau baju bekas layak pakai.. kalau mereka mau kenapa aku harus bilang ga mau???!!

Sejak saat itu akhirnya aku berani naik angkot, naik metromini, naik ojek, naik busway atau kereta tanpa harus takut terlihat ga keren..

Usia semakin bertambah..

30 tahun
 Aku baru saja mengenal Tuhan beberapa tahun terakhir, selama ini aku memang berdoa dan beribadah layaknya manusia yang mempunyai Tuhan.. tapi aku baru saja mengenal Tuhan akhir-akhir ini saja. Aku jadi lebih banyak berterimakasih dan bersyukur karena  sampai detik ini begitu banyak nikmat dan limpahan rezeki yang aku terima dariNya.. lalu aku memutuskan untuk berpakaian lebih sopan dengan menutup kepalaku menggunakan Khimar.. (saya lebih masuk kedalam kategori ini dibanding "Jilbab")

Lalu suara-suara miring bermunculan..
“untuk apa??”
“sok suci”
“anak band berubah alim?? Kenapa?? Takut di azab ya??”
“lo kenapa del?? Tobat??”
“kalau mau pakai jilbab, yang syar’i dong.. ngapain masih pakai lilit lilit begitu??” (sementara yang bicara belum ber"hijab")
“ah.. mending kayak gw aja, ga perlu pakai hijab tapi kelakuan gw baik-baik aja dari dulu..”
“lo udah kayak orang bener aja pake hijab-hijaban”
“kalau mau pake hijab, buang tuh makeup, ga usah nyanyi-nyanyi lagi, ga usah jadi komedian lagi, ga usah bikin lagu lagi... malu-maluin aja..”

Lalu aku hanya menjawab “aku Cuma berusaha berpakaian lebih sopan dari pada pakaian yang aku kenakan sebelumnya.. jika masih belum syar’i maafkan.. jika masih terlihat terlalu fashion maafkan.. biarkan aku menjalani proses ini.. seperti aku membiarkan kamu menjalankan proses hidupmu sendiri”

Dan mereka masih saja berkicau setiap saat sampai hari ini..

Setiap Orang bisa berubah seiring waktu..
Setiap orang punya hak untuk berubah.. menjadi lebih baik atau menjadi “cukup” baik
Setiap orang boleh tidak berubah, tetapi waktu pasti merubahnya..

From 20 to 28
Aku masih dudul, masih naik-naik genteng, masih suka ketawa ngakak dan suka bikin orang ketawa, aku masih tetap terlihat sama dengan 13 tahun yang lalu tetapi terbentuk dalam kemasan yang berbeda..

So, what's your problem??